Esquire Theme by Matthew Buchanan
Social icons by Tim van Damme

06

Feb

kisah islam lampau

Antum pasti sudah tahu betuk dan mengerti tentang kisahpkisah islam pada zaman Nabi dulu, namun kali ini saya memcoba memberi sedikit referensi tentang cerita dari islam tempo doeloe, mari simak bersama :

Penyebaran Islam di Betawi

Sejarawan keturunan Jerman, Adolf Heuken SJ, dalam buku Masjid-masjid Tua di Jakarta, menulis tiada masjid di Jakarta sekarang ini yang diketahui sebelum 1640-an. Dia menyebutkan Masjid Al-Anshor di Jl Pengukiran II, Glodok, Jakarta Kota, sebagai masjid tertua yang sampai kini masih berdiri. Masjid ini dibangun oleh orang Moor — artinya pedagang Islam dari Koja (India).

Sejarah juga mencatat pada Mei 1619, ketika VOC menghancurkan Keraton Jayakarta, termasuk sebuah masjid di kawasannya. Letak masjid ini beberapa puluh meter di selatan Hotel Omni Batavia, di antara Jl Kali Besar Barat dan Jl Roa Malaka Utara, Jakarta Kota.

Untuk mengetahi sejak kapan penyebaran Islam di Jakarta, menurut budayawan dan politisi Betawi, Ridwan Saidi, bisa dirunut dari berdirinya Pesantren Quro di Karawang pada tahun 1418. Syekh Quro, atau Syekh Hasanuddin, berasal dari Kamboja. Mula-mula maksud kedatangannya ke Jawa untuk berdakwah di Jawa Timur, namun ketika singgah di pelabuhan Karawang, Syekh urung meneruskan perjalanannya ke timur. Ia menikah dengan seorang gadis Karawang, dan membangun pesantren di Quro. 

Makam Syekh Quro di Karawang sampai kini masih banyak diziarahi orang. Di kemudian hari, seorang santri pesantren itu, yakni Nyai Subang Larang, dipersunting Prabu Siliwangi. Dari perkawinan ini lahirlah Kean Santang yang kelak menjadi penyebar Islam. Banyak warga Betawi yang menjadi pengikutnya.

Menurut Ridwan Saidi, di kalangan penganut agama lokal, mereka yang beragama Islam disebut sebagai kaum langgara, sebagai orang yang melanggar adat istiadat leluhur dan tempat berkumpulnya disebut langgar. Sampai sekarang warga Betawi umumnya menyebut mushola dengan langgar. Sebagian besar masjid tua yang masih berdiri sekarang ini, seperti diuraikan Heuken, dulunya adalah langgar.

Menelusuri awal penyebaran Islam di Betawi dan sekitarnya (1418-1527), Ridwan menyebutkan sejumlah tokoh penyebarnya, seperti Syekh Quro, Kean Santang, Pangeran Syarif Lubang Buaya, Pangeran Papak, Dato Tanjung Kait, Kumpo Datuk Depok, Dato Tonggara, Dato Ibrahim Condet, dan Dato Biru Rawabangke.

Pada awalnya penyebaran Islam di Jakarta mendapat tantangan keras, terutama dari bangsawan Pajajaran dan para resi. Menurut naskah kuno Carios Parahiyangan, penyebaran Islam di bumi Nusa Kalapa (sebutan Jakarta ketika itu) diwarnai dengan 15 peperangan. Peperangan di pihak Islam dipimpin oleh dato-dato, dan di pihak agama lokal, agama Buwun dan Sunda Wiwitan, dipimpin oleh Prabu Surawisesa, yang bertahta sejak 1521, yang dibantu para resi.

Bentuk perlawanan para resi terhadap Islam ketika itu adalah fisik — melalui peperangan, atau mengadu ilmu. Karena itulah saat itu penyebar Islam umumnya memiliki ‘ilmu’ yang dinamakan elmu penemu jampe pemake. Dato-dato umumnya menganut tarekat. Karena itulah banyak resi yang akhirnya takluk dan masuk Islam. Ridwan mencontohkan rersi Balung Tunggal, yang dimakamkan di Bale Kambang (Condet, Kramatjati, Jakarta Timur).

Prabu Surawisesa sendiri akhirnya masuk Islam dan menikah dengan Kiranawati. Kiranawati wafat tahun 1579, dimakamkan di Ratu Jaya, Depok. Sesudah masuk Islam, Surawisesa dikenal sebagai Sanghyang. Ia dimakamkan di Sodong, di luar komplek Jatinegara Kaum. Ajaran tarekat dato-dato kemudian menjadi ‘isi’ aliran maen pukulan syahbandar yang dibangun oleh Wa Item. Wa Item adalah syahbandar pelabuhan Sunda Kalapa yang tewas ketika terjadi penyerbuan oleh pasukan luar yang dipimpin Falatehan (1527).

Selain itu juga ada perlawanan intelektual yang berbasis di Desa Pager Resi Cibinong, dipimpin Buyut Nyai Dawit yang menulis syair perlawanan berjudul Sanghyang Sikshakanda Ng Kareyan (1518). Sementara, di Lemah Abang, Kabupaten Bekasi, terdapat seorang resi yang melakukan perlawanan terhadap Islam melalui ajaran-ajarannya yang menyimpang. Resi ini menyebut dirinya sebagai Syekh Lemah Abang, atau Syekh Siti Jenar. Tantangan yang demikian berat mendorong tumbuhnya tradisi intelektual Betawi.

Seperti dituturkan Ridwan Saidi, intelektualitas Islam yang bersinar di masyarakat Betawi bermula pada abad ke-19 dengan tokoh-tokoh Guru Safiyan atau Guru Cit, pelanjut kakeknya yang mendirikan Langgar Tinggi di Pecenongan, Jakarta Pusat.

Pada pertengahan abad ke-19 hingga abad ke-20 terdapat sejumlah sentra intelektual Islam di Betawi. Seperti sentra Pekojan, Jakarta Barat, yang banyak menghasilkan intelektual Islam. Di sini lahir Syekh Djuned Al-Betawi yang kemudian menjadi mukimin di Mekah. Di sini juga lahir Habib Usman Bin Yahya, yang mengarang puluhan kitab dan pernah menjadi mufti Betawi.

Kemudian, sentra Mester (Jatinegara), dengan tokoh Guru Mujitaba, yang mempunyai istri di Bukit Duri. Karena itulah ia secara teratur pulang ke Betawi. Guru Mujitaba selalu membawakitab-kitab terbitan Timur Tengah bila ke Betawi. Dia punya hubungan dengan Guru Marzuki Cipinang, yang melahirkan sejumlah ulama terkemuka, seperti KH Nur Ali, KH Abdullah Syafi’ie, dan KH Tohir Rohili.

Juga, sentra Tanah Abang, yang dipimpin oleh Al-Misri. Salah seorang cucunya adalah Habib Usman, yang mendirikan percetakan 1900. Sebelumnya, Habib Usman hanya menempelkan lembar demi lembar tulisannya pada dinding Masjid Petamburan. Lembaran itu setiap hari digantinya sehingga selesai sebuah karangan. Jamaah membacanya secara bergiliran di masjid tersebut sambil berdiri.

(Alwi Shahab )

Sumber : Republika, Ahad – 25 November 2007

gimana kisahnya? menarikkah?

Kisah Baru Seorang Tokoh(2)

K.H. Abdul Hanan Sa’id

Pada tanggal 25 Februari 2000, masyarakat Betawi kehilangan salah satu ulamanya di bidang ilmu tajwid, yaitu KH. Abdul Hanan Bin H Muhammad Sa’id, atau dikenal dengan nama KH. Abdul Hanan Sa’id; dan bulan Februari sekarang ini adalah haulnya yang ke-7.

 

KH. Abdul Hanan Sa’id bukanlah asli keturunan etnis Betawi. Dia dilahirkan di Serang, Banten pada tanggal 4 April 1923 dan wafat pada tanggal 25 Pebruari 2000, di usia kurang dari 77 tahun. Hanan memulai pendidikan formalnya di sekolah dasar pada usia 8 tahun dan selesai pada tahun 1936. Pada tahun 1937, melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Ibtidaiyah dan selesai pada tahun 1941. Pada tahun 1950, Hanan yang telah berusia 27 tahun memutuskan untuk kembali mendalami ilmu agama, khususnya ilmu Alquran di pesantren.

Profesinya sebagai seorang guru dimulai pada tahun 1942 saat ia mulai mengajar di Madrasah Al-Ihsaniyah di kampung halamannya, Serang, Banten. Pada tahun 1950, ia pindah ke Tambun, Bekasi dan meneruskan karir mengajarnya di Madrasah An-Nasyi`ah. Setahun kemudian, 1951, ia pindah ke Jakarta, untuk seterusnya, dan menjadi pengasuh di Ma`had Ta`lim al-Qur`ân. Dia juga menjadi pengasuh pondok itu dan menjadi pengajar agama di beberapa tempat seperti di Corp Cacat Veteran, di perkumpulan anggota polisi Seksi III Pasar Baru. Pada tahun 1956, ia dipercaya untuk menjadi kepala madrasah Manhalun Nasyi`in yang berlokasi di Jakarta Pusat. Pada tahun 1959, ia dinyatakan lulus ujian sebagai Guru Agama dan mendapatkan status sebagai pegawai negeri sipil.

Gelar “Kiai Haji” diberikan masyarakat kepada Abdul Hanan Saiid setelah ia pulang dari ibadah haji pada tahun 1973. Gelar tersebut memang pantas ia sandang karena kiprahnya semakin menonjol di tengah masyarakat, terutama masyarakat Betawi. Begitu pula dengan karirnya yang semakin maju. Dimulai ketika ia menjadi kepala Kantor Penerangan Agama Daerah Tingkat II, Jakarta Utara pada tahun 1961. Kemudian ia diangkat sebagai kepala Dinas Penerangan Agama Kota Jakarta Barat pada tahun 1968. Pada tahun 1973 (setelah menunaikan ibadah haji), ia diangkat menjadi kepala Inspeksi Penerangan Agama Kota Jakarta Pusat., Pada tanggal 11 Mei 1979, karirnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) berakhir. Namun, profesi dan kiprahnya sebagai kiai dan guru tajwid Alquran semakin menonjol.

Ia bersedia hadir walau hanya untuk menjadi juri MTQ dengan peserta usia taman kanak-kanak dan remaja. Bahkan, ia pernah menjadi Ketua Dewan Hakim MTQ Antar Waria yang diadakan di Sasana Langen Budaya TMII Jakarta Timur pada tanggal 15 Desember 1990. Bidang dakwahnya semakin luas saat ia diminta menjadi anggota Lajnah Pentashih Mushaf Alquran Departemen Agama RI dari tahun 1993 sampai dengan tahun 2000.

Pengalaman dan Jasa-jasa
KH A Hanan Sai’d dikenal sebagai seorang yang ahli di bidang tajwid. Ia termasuk salah satu ulama di Indonesia yang langka yang menguasai ilmu-ilmu dan qira’at al-Quran. Hal ini terlihat ketika Pemerintah Republik Indonesia, melalui menteri Agama memberikan penghargaan kepadanya sebagai “Hamalah al-Qur’an dari Jakarta” karena pengalaman dan jasa-jasa beliau di dalam memajukan pendidikan dan pengembangan Alquran di masyarakat.

Beliau memiliki pengalaman yang sangat padat. Pengalamannya sebagai ketua atau koordinator dewan hakim MTQ atau MHQ dijalaninya sebanyak kurang lebih 150 kali, terhitung sejak tahun 1953 sampai tahun 1993, baik untuk even-even lokal maupun nasional. Jika ditambah dengan posisinya sebagai Anggota Dewan Hakim MTQ dan MHQ, sejak tahun 1953 sampai tahun 1999, maka sudah 255 kali ia tekuni untuk even-even lokal, nasional, maupun internasional. Sedangkan sebagai pembina bagi qori’ dan qori’ah bagi duta DKI Jakarta untuk MTQ dan MHQ, terhitung sejak tahun 1962 sampai dengan tahun 1993, tetap ia jalani sebanyak 32 kali.

Salah satu sumbangan pemikiran beliau yang sangat penting dan menjadi kontroversi di kalangan ahli tajwid adalah penemuannya tentang qalqalah akbar. Sebagaimana diketahui bahwa qalqalah di dalam ilmu tajwid ada dua, yaitu qalqalah shugra dan qalqalah kubra. Sedangkan beliau menganggap bahwa ada tiga, dengan penambahan, yang menurut istilah beliau disebut dengan qalqalah akbar: qalqalah yang lebih daripada qalqalah kubra. Qalqalah akbar, misalnya, dapat ditemukan pada pengucapan watabb di Q.S. Al-Lahab.

Kitab Taysîr al-Musykilat fî Qira`ah al-Âyat (seterusnya disingkat dengan Taysîr) merupakan karya masterpiece dari KH. Abdul Hanan Sa’id. Selain kitab Taysîr, terdapat karya-karya lain beliau, yaitu: Risalah Pegangan Khatib, Miftâh at-Tajwîd Juz I dan Juz II, al-Masâ`il at-Tajwîdiyyah Jilid I dan Jilid II, al-Asytât fi al-Hikâmi wa al-Fawa`id wa al-Maqâlât. Kepakarannya dalam ilmu tajwid diapreasi oleh pemerintah Republik Indonesia (melalui Departemen Agama) dengan memberikan penghargaan kepadanya sebagai Hamalah al-Qur`an.

Tersusunnya kitab Taysîr merupakan buah dari ketekunan KH Abdul Hanan Sa`id selama puluhan tahun. Sebab, isinya berasal dari catatan-catatan yang ditulisnya sebagai pelatih; ketika para qori dan qori`ah serta hafidz dan hafidzah menemukan kesukaran dalam mengucapkan huruf atau ayat tertentu di dalam Alquran menurut riwayat Imam Hafs. Kesukaran tersebut dialami ketika mereka mengikuti tiap-tiap training centre (pemusatan pelatihan) untuk mengikuti even MTQ Tingkat Nasional Pertama pada tahun 1968 sampai dengan MTQ Tingkat Nasional Keenam pada tahun 1991. (Alwi Shahab)

sumber : Republika, 23 Februari 2007

Kisah Baru Seorang Tokoh(1)

K.H Rahmat Abdullah (1953-2005)

Satu lagi tokoh nasional pergi meninggalkan kita. K.H. Rahmat Abdullah, anggota komisi III DPR RI dari Fraksi PK Sejahtera yang pernah menjabat ketua MPP periode 1999-2005. Ustadz Rahmat Abdullah, begitu beliau biasa dipanggil para muridnya, sedang menghadiri rapat lembaga tinggi partai di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan. Tugas barunya selaku Ketua Badan Penegak Disiplin Organisasi di PK Sejahtera 2005-2010 belum sempat ditunaikan.

 

Pada hari Selasa (14/6), ketika menghadiri rapat tak ada tanda-tanda beliau sakit. Wajahnya cerah seperti biasa. Namun, ketika beliau berwudhu untuk menunaikanshalat Maghrib, tiba-tiba merasakan sakit di kepala. Beliau sempat diperiksa dr. Agus Kushartoro (Direktur Bulan Sabit Merah Indonesia/BSMI) dan dinyatakan terkena stroke.

Presiden PK Sejahtera Ir. H. Tifatul Sembiring bersama fungsionaris PK Sejahtera sempat mengantarkan ke RS. Tria Dipa di Pancoran. Karena peralatannya kurang memadai, beliau segera dibawa ke RS Islam Cempaka Putih. Namun, di tengah perjalanan, sekitar pukul 19.30 beliau dipanggil Allah SWT. Ustadz Rahmat yang digelari Syaikh at Tabiyah oleh Majalah SABILI (tahun 2001), wafat dalam usia 52 tahun, meninggalkan seorang isteri dan tujuh anak.

Almarhum dimakamkan di TPU Bojong Jati Makmur, tak jauh dari tempat kediamannya yang asri. Murid dari tokoh kharismatik KH. Abdullah Syafi’ie (pendiri dan pimpinan PonPes Asy Syafi’iyah) itu memang dikenal sederhana, meskipun pengaruhnya amat besar dikalangan tokoh-tokoh muda gerakan Islam. Namanya sempat diusung Koalisi Kebangsaan dalam Sidang Umum MPR tahun 2004 sebagai alternatif calon Ketua MPR, karena dinilai paling senior. Namun akhirnya Dr. Hidayat Nur Wahid, MA yang maju dan terpilih sebagai ketua MPR RI mengalahkan calon dari Koalisi Kebangsaan.

K.H. RAHMAT ABDULLAH dilahirkan di kota Jakarta pada tanggal 3 Juli 1953. Putra kedua dari 4 bersaudara ini hidup dari keluarga asal Betawi yang sederhana dan taat beragama. Pada usia 11 tahun ia harus menapaki hidupnya tanpa asuhan sang ayah, karena saat itu ia telah menjadi seorang anak yatim.

Awal pendidikan resminya disamping dididik oleh kedua orang tua, ia memasuki sebuah perguruan Islam yang
terkenal di Jakarta, yakni Perguruan Islam As Syafi’iyah bimbingan KH. Abdullah Syafi’ie hingga
menamatkan sekolah Aliyah (tingkat menengah) dengan prestasi yang gemilang.

Rahmat Abdullah muda sangat berbeda dengan kaum remaja seusianya pada saat itu. Ia taat beribadah, selain memiliki karakter dan akhlaq yang mulia. Hari-harinya dihabiskan untuk belajar, membaca dan membaca. Bahkan, diusianya yang sangat muda ia telah memposisikan dirinya sebagai guru di tempat ia menuntut ilmu.

Dunia Ilmu adalah dunia yang sangat melekat dalam dirinya. Kegemaran membaca Al Quran dan aneka buku membuat ia jauh lebih cepat matang dibandingkan remaja-remaja lain pada umumnya. Disaat itulah ia mulai banyak membaca karya pemikiran dan perjuangan tokoh-tokoh seperti HOS Cokro Aminoto, Moh Natsir,Hasan Al Banna, Sayyid Qutb, Abul A’la Maududi dan tokoh-tokoh pergerakan islam lainnya. Disamping ia tetap menekuni kitab-kitab klasik (kitab kuning) sebagai warisan sejarah.

Kebersihan jiwanya telah mengantarkan Rahmat Abdullah menjadi pemuda pembelajar cepat yang sangat cemerlang seperti lautan ilmu tanpa menyandang gelar. Ia perpaduan antara khazanah ilmu-ilmu keislaman klasik dan pandangan Islam modern yang tidak dimiliki oleh banyak orang yang berlabel Ustadz.

Dunia seni dan sastra sebagai media komunikasi budaya juga merupakan bagian dari dirinya yang tak pernah lepas. Antara bakat dan semangat telah melekat. Ia gemar dzikir dan fikir, membaca fenomena alam yang kemudian diekspresikan dalam bentuk produk seni, seperti puisi, esai, butir-butir nasyid dan naskah drama. Oleh karena itulah banyak orang cendrung
menjulukinya sebagai seorang budayawan.

Sebagai seraong da’i sejati, ia habiskan waktu, tenaga serta pikirannya untuk kegiatan da’wah. Siang dan malam dilaluinya dengan pengajian demi pengajian tanpa mengenal lelah dan keluh kesah. Ia menjadi tempat anak-anak muda berkonsultasi, berbagi rasa, curahan hati tanpa ada batas waktu “pelayan umat. Itulah peran yang ia mainkan hingga kini.

Sebagai seorang Muballigh, ia dikenal memiliki karakter yang khas. Kemampuan retorika tinggi yang dihiasi oleh sentuhan sastra yang acap kali membuat para pendengar menangis sebagaimana kemampuan ia membangkitkan semangat yang menggelora ketika ia mengangkat isu tentang JIHAD.

Beliau juga aktif mengisi ceramah di radio dan televisi. Beliau adalah pengisi rubrik rutin Titik Pandang Rahmat Abdullah di Radio Dakta Bekasi setiap Sabtu jam 06.30 WIB. Di radio ini pula beliau menggagas rubrik SAMARA yang disiarkan setiap malam rabu.

Sebagai seorang penulis, beliau aktif menulis buku dan mengisi rubrik dibeberapa majalah Islam seperti majalah SABILI, ISHLAH, SAKSI, Da’watuna, dan UMMI, TARBAWI. Di majalah yang terakhir inilah beliau secara rutin mengisi rubrik Asasiyat yang kemudia oleh Pustaka Da’watuna diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul Untukmu Kader Da’wah pada tahun 2005. Buku inilah sebagai persembahan terakhir beliau.

Awal tahun 80an ia memasuki dunia Harakah Islamiyah yang pada saat itu mulai tumbuh di Indonesia hingga mengantarkan beliau sebagai pakar dalam bidang TARBIYAH (Syaikh at Tarbiyah).

Dengan bermodalkan sepeda motor tua ia masuk kampung keluar kampung, masuk kampus keluar kampus menabur fikrah Islamiyah yang shahih dan syamil. Fikroh dan manhaj da’wah yang didistribusikan ternyata mendapat sambutan yang hangat dari berbagai kalangan yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya PK Sejahtera.

Awal tahun 1990 beliau memasuki pengembangan dunia pendidikan dan social secara formal, sebagai wujud dari kepeduliannya terhadap lingkungan. Ia mendirikan ISLAMIC CENTRE IQRO yang bergerak dalam bidang pendidikan, social, dan da’wah di wilayah Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. Disinilah ia menetap dan disinilah ia berekspresi mengembangkan cita-citanya melalui kajian-kajian kitab klasik setiap Ahad pagi.

Proses perjalanan da’wah yang panjang akhirnya telah menggiringnya kepada keterlibatan dalam dunia politik yang kini ia geluti. Partai Keadilan yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera, adalah bagian dari dirinya. Ia salah seorang pendiri dari partai berbasis Islam intelektual itu.

Posisi kepemimpinan tinggi dalam partai telah pula dijabatnya. Pada periode 2004/2005 beliau menjabat sebagai ketua MPP (Majelis Pertimbangan Partai) dan setelah itu baru saja dikukuhkan sebagai ketua Badan Disiplin Organisasi PK Sejahtera untuk periode 2005-2010.

Hari hari kehidupannya diwarnai oleh kesibukan yang luar biasa. Mengajar, memberi taujih pada acara kepartaian, ceramah di berbagai stasiun radio dan televisi, mengisi seminar seminar keislaman diberbagai daerah dan luar negeri, menulis artikel di
sejumlah media cetak, disamping melakukan lobby politik dengan berbagai kalangan. Hingga maut menjemputnya.

Sumber : Mahfudz Sidik
Diketik ulang oleh Fajar Martiono

(sumber : http://www.pks-jaksel.or.id/)

28

Jan

cerita masjid tua….

Cornelis Matelief Jonge, pemimpin armada Belanda, ketika menjelajahi Teluk Jakarta (1607), membuat gambar kota Jayakarta yang berada di tepi pantai. Terlihat sebuah masjid, yang menurut sejarawan Adolf Heuken sebagai masjid pertama di Jakarta. Pada Mei 1619, masjid ini dibumi-hanguskan oleh JP Coen, ketika dia menaklukkan Jayakarta.

Menjadi pertaanyaan, apakah masjid yang dibangun dari kayu terletak beberapa puluh meter sebelah selatan Hotel Omni Batavia (kira-kira terminal angkutan darat Jakarta Kota) itu merupakan masjid pertama di Ibukota? Tanah bekas masjid itu kemudian digunakan untuk membangun sebuah perwakilan dagang Inggris.

Pada paruh abad ke-14 di Karawang, Jawa Barat, berdiri pesantren Kuro. Karawang, seperti juga Sunda Kalapa, ketika itu termasuk wilayah Kerajaan Pajajaran yang dipimpin prabu Siliwangi. Ketika sang prabu mengunjungi pesantren Kuro, ia jatuh hati pada seorang santri bernama Subang Larang. Mereka menikah dan dikarunia seorang putera, Kyan Santang, yang kemudian menyebarkan agama Islam.

Ketika itu, orang Betawi banyak menjadi pengikut Islam. Para pendeta di Pajajaran menilai Kyan Santang melakukan penyimpangan, atau langgara. Karena itu, tempat sembahyang pengikut Islam di sebut langgar. Warga Betawi masih banyak menyebut langgar untuk sebutan mushola. Sedang tempat shalat yang lebih besar mereka sebut masjid atau masigit. Jadi, menjelang abad ke-15 sudah berdiri masjid di Jakarta.

Karena Islam dianggap membahayakan, maka Pejajaran melakukan perjanjian dengan Portugis yang membuat Sultan Trenggano dari Demak menjadi amat gusar. Dia kemudian mengirimkan seorang mubaligh sekaligus panglima, Fatahilah, dengan balatentaranya untuk menyerbu Sunda Kalapa dan mengusir Portugis. Fatahillah mendirikan kadipaten di sebelah barat muara Ciliwung. Di sebelah timur didirikan aryan — perumahan untuk pejabat kadipaten dan keluarganya yang didatangkan dari Banten.

Pada abad ke-17 orang dari berbagai bangsa di Nusantara bertemu di Jakarta. Adat kebiasaan masing-masing terpaksa ditinggalkan karena beraneka ragam. Karena itu, kampung-kampung di sekitar kota dan desa-desa pedalaman bersatu dalam hal agama, dan kemudian dalam hal bahasa Melayu Betawi.

Gereja reformasi, tulis Hayken, tak sampai mencoba penginjilan, karena dianggap mustahil mentobatkan orang Muslim atau Tionghoa. Kecuali kegiatan Katholik yang dilarang sampai 1806. Batavia dan daerah sekitarnya mengalami semacam ‘Melayunisasi’ cepat setelah tahun 1700. Letnan Gubernur Jenderal Raffles sampai menulis pujian terhadap perkembangan Islam yang pesat pada masanya.

Untuk menjajaki sejumlah masjid tua yang sampai kini masih berdiri, baiklah kita mendatangi Masjid Al-Alam di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Masjid ini dibangun oleh Fatahilah dan pasukannya untuk menyerang Portugis (1527). Ada keyakinan masyarakat di sini, bahwa Fatahillah membangun Masjid Al-Alam hanya dalam sehari.

Hingga kini masjid yang terletak di tepi pantai itu tidak pernah sepi. Selalu diziarai, lebih-lelbih pada malam Jumat kliwon. Seratus tahun kemudian (1628-1629), ketika ribuan prajurit Mataram pimpinan Bahurekso menyerang markas VOC (kini gedung museum sejarah Jakarta) para prajurit Islam ini lebih dulu singgah di Marunda guna mengatur siasat perjuangan. Bahkan, ada yang mengatakan masjid ini dibangun oleh prajurit Sultan Agung.

Dalam bulan puasa ini, ada hal-hal istimewa yang akan kita dapati bila mengunjungi masjid-masjid tua di Jakarta. Di samping mendapatkan siraman rohani, kita akan mendapatkan pula kisah-kisah heroik perjuangan umat Islam di masa lalu. Mencontoh fungsi masjid di masa Rasulullah SAW, nasjid tua itu, melalui para jamaahnya, telah mengobarkan semangat perjuangan melawan penjajahan Belanda. Bahkan, pernah dijadikan sebagai markas perjuangan pada masa revolusi fisik (1945-1949) melawan NICA.

Ada Masjid As-Salafiah di Jatinegara Kaum, dekat Pulo Gadung, Jakarta Timur. Masjid ini didirikan oleh Pangeran Ahmed Jakerta, setelah ia hijrah dari Jayakarta pada tahun 1619 akibat gempuran VOC. Di tempat yang empat abad lalu masih terpencil dan berupa hutan belukar itu pangeran membangun masjid yang hingga kini masih diabadikan. Ini terlihat dari empat tiang utama yang terbuat dari kayu jati yang menjadi penyangganya. Sekalipun sudah delapan kali direnovasi dan diperluas, empat tiang penyanggah ini masih kita dapati.

Dari Masjid As-Salafiah inilah, pangeran Jayakarta dan pengikutnya mengobarkan semangat jihad untuk terus menerus mengusik Belanda. Menurut sejarah versi Belanda, sampai 1670 Batavia tidak pernah aman dari gangguan keamanan akibat aksi gerilya tersebut. Ketika Sultan Agung menyerang Batavia, Jatinegara Kaum kembali memegang sejarah penting. Di masjid ini kita masih mendapati makam Pangeran Ahmed Jakerta, para keluarga dan pengikutnya.

Glodok yang selalu hingar bingar — apalagi saat puasa sekarang ini — juga banyak memiliki masjid tua. Di Jl Pengukiran II, misalnya, terdapat masjid Al-Anshor yang didirikan oleh para pendatang dari Malabar (India) pada abad ke-17. Tepatnya pada 1648. Ada lagi Masjid Kampung Baru yang didirikan pada tahun 1748 yang kini hanya tersisa beberapa dari bangunan aslinya.

Tidak jauh dari tempat itu, di tepi kali Angke di Jl Pekojan, Jakarta Barat, terdapat sebuah surau yang disebut Langgar Tinggi. Disebut demikian karena langgar ini agak tinggi dan berlantai dua. Para Muslim India juga berperan dalam membangun langgar ini. Masih di kawasan Pekojan, terdapat masjid yang dibangun pada abad ke-18. Masjid an-Nawier (Cahaya) erat kaitannya dengan masjid kuno di Kraton Solo dan Banten. Ikut berperan dalam penyebaran Islam. Masih terdapat puluhan lagi masjid tua di Jakarta yang ikut berperan dalam penyebaran Islam dan memeprtahankan kemerdekaan.

(Alwi Shahab )

sumber : Republika online, Minggu, 30 September 2007

“A horse is a thing of beauty….none will tire of looking at him as long as he displays himself in his splendor”

(xenoophon)


Pada abad 19, Betawi-Weltevreden dipromosikan dengan sebutan : Queen of the East (Ratu dari Timur). Boleh dikata, saat itu Betawi mengalami transfusi yang cukup besar dari para pendatang Eropa. Serdadu dan pedagang dari abad ke-19 ini jauh berbeda dari rekan-rekan mereka di abad ke-17. Mereka lebih santun dan terhormat, ketimbang serdadu dan petani yang didatangkan JP Coen dua abad sebelumnya. Di sekitar Weltevreden muncul pemukiman-pemukiman baru : seperti Tanah Abang, Gondangdia, Meester Cornelis (Jatinegara), dan Menteng. Mereka membangun rumah-rumah modern di Eropa. Jalan-jalan dinaungi pohon-pohon yang rindang seperti pohon asem dan kenari, yang kini masih tersisa kita lihat di beberapa tempat di kawasan Menteng. Warga Prancis banyak yang berdomisili di kawasan Rijswijk dan Noordwijk yang berdekatan dengan Istana dan sejumlah hotel besar Warga Inggris di sekitar Pegangsaan. Sementara berbagai tempat hiburan, seperti bioskop, teater dan gedung pertemuan bermunculan. Semua dengan ciri-ciri Eropa yang modern. Awal abad ke-20 Betawi mencapai kekayaan yang melimpah.


(from me : buku wah, kudu antum BACA nih!!!!!!!!!!)

Pada abad 19, Betawi-Weltevreden dipromosikan dengan sebutan : Queen of the East (Ratu dari Timur). Boleh dikata, saat itu Betawi mengalami transfusi yang cukup besar dari para pendatang Eropa. Serdadu dan pedagang dari abad ke-19 ini jauh berbeda dari rekan-rekan mereka di abad ke-17. Mereka lebih santun dan terhormat, ketimbang serdadu dan petani yang didatangkan JP Coen dua abad sebelumnya.

Di sekitar Weltevreden muncul pemukiman-pemukiman baru : seperti Tanah Abang, Gondangdia, Meester Cornelis (Jatinegara), dan Menteng. Mereka membangun rumah-rumah modern di Eropa. Jalan-jalan dinaungi pohon-pohon yang rindang seperti pohon asem dan kenari, yang kini masih tersisa kita lihat di beberapa tempat di kawasan Menteng.

Warga Prancis banyak yang berdomisili di kawasan Rijswijk dan Noordwijk yang berdekatan dengan Istana dan sejumlah hotel besar Warga Inggris di sekitar Pegangsaan. Sementara berbagai tempat hiburan, seperti bioskop, teater dan gedung pertemuan bermunculan. Semua dengan ciri-ciri Eropa yang modern. Awal abad ke-20 Betawi mencapai kekayaan yang melimpah.

(from me : buku wah, kudu antum BACA nih!!!!!!!!!!)

Djakarta djaman donkere huidige

mungkin itulah judul yang tepat untuk artikel yang ini, namun saya pikir sudah tak berjudul pun bagus-bagus saja. Mengapa jakarta zaman donkere huidige?

donkere huidige itu di nukil dari bahasa belanda yang berarti adalah saat kelam, sesuai dengan juddul blog ini “weltevreden” maka isinya kita akan membicarakan“nya”. FYI : Weltevreden itu sebenarnya suatu tempat yang ada di Indonesia sebelum terjadinya dunia yang silau bagi Indonesia, baik silau dari segi kebebasan dan kedamaian hingga silau tahta dan korupsi. Untuk itu kita perlu mengetahui tentang beberapa kecil sejarah saat kelam.

nah kita mulai sekarang, kita akan menyelami masa silam dengan mengetahui suatu tempat penting di batavia tempo dulu.

Ceritaku di Ragunan

Ragunan merupakan sebuah kelurahan di Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kelurahan itu mulai dikenal dan banyak didatangi masyarakat sejak gubernur DKI Ali Sadikin, pada awal 1970-an, membangun kebun binatang di sana menggantikan kebun binatang Cikini yang dijadikan pusat kesenian Taman Ismail Marzuki (TIM).

Sebelum ada taman margasatwa, penduduk Ragunan masih jarang. Belum terdapat jalan raya yang kini dapat ditempuh dari berbagai jurusan, termasuk bus way. Kini, Taman Margasatwa Ragunan termasuk salah satu tempat rekreasi yang banyak dikunjungi warga Jakarta dan sekitarnya. 

Tapi, banyak yang tidak tahu asal muasal nama Ragunan. Untuk mengetahuinya, kita harus kembali ke abad 17. Seorang Belanda bernama Hendrik Lucaasz Cardeel, oleh Sultan Banten Abunasar Abdul Qohar yang disebut Sultan Haji putra Sultan Ageng Tirtayasa diberi gelar Pangeran Wiraguna.

Pada tahun 1675 terbetik berita, bahwa sebagian dari Keraton Surasowan Banten, tempat bertahta Sultan Ageng Tirtayasa, terbakar. Dua bulan kemudian, datanglah Hendrik Lucaasz Cardeel, seorang jurubangun, yang mengaku melarikan diri dari Batavia. Kepada Sultan, selain menyatakan kesiapannya untuk membangun kembali keraton yang terbakar itu, ia juga menyatakan keinginannya untuk memeluk Islam.

Kedatangan Cardeel disambut hangat oleh Sultan Ageng Tirtayasa yang tengah membutuhkan ahli bangunan berpengalaman. Dia ditugasi untuk membangun Istana Surasowan, termasuk bendungan dan istana peristirahatan di sebelah hulu Ci Banten, yang kemudian dikenal dengan sebutan bendungan dan Istana Tirtayasa.

Dalam situasi demikian, terjadi kemelut di Kesultanan Banten. Sultan Haji mendesak ayahnya agar ia segera dinobatkan menjadi sultan. Akhirnya, terjadilah perang antara ayah dan anak yang cukup menodai sejarah kesultanan Banten. Dalam keadaan terdesak, Sultan Haji mengirim utusan ke Batavia. Apalagi kalau bukan meminta bantuan kompeni.

Tentu saja pihak kompeni menjadi sangat gembira menerima permintaan tersebut. Adapun yang diutus ke Batavia tidak lain Pangeran Wiraguna alias Cardeel. Atas jasa-jasanya itulah, Cardeel mendapat dapat gelar Pangeran Wiraguna.

Pada 1689, Cardeel pamit pada sultan dengan alasan pulang ke Belanda. Tetapi, ia menetap di Batavia dan kembali memeluk Kristen. Tanahnya yang sangat luas kini bernama Ragunan — dari kata Wiraguna. Menurut penulis sejarah Batavia, de Haan (1911), Cardeel dimakamkan di Ragunan dan makamnya oleh sementara orang dikeramatkan. Namun, penulis tidak berhasil menemukan makam itu. Bahkan, penduduk asli Ragunan, termasuk para orang tua, tidak mengenal sejarah kampung mereka.

Di Kesultanan Banten, dengan pemerintahan Islamnya, orang-orang asing memiliki dua pilihan terbuka: mereka tetap seperti adanya dan menjalankan bisnis dari luar dinding keraton, atau mereka melakukan konversi agama menjadi seorang Muslim. Dengan menjadi Muslim orang asing diizinkan untuk membuat kontrak, memperolah hak berdagang, dan memperoleh pekerjaan bergengsi.

Konversi itu ditandai dengan khitanan, mengganti nama dan gelar resmi serta poligami. Karenanya, Cardeel mendapatkan gelar Pangeran Wiraguna ahli bagian kerajaan, ahli konstruksi terkemuka dengan status Muslim, dan menjadi suami seorang pribumi ningrat. Seperti halnya Untung Surapati, Wiraguna membawa pengetahuan tentang teknologi Barat dan ajaran Islam untuk mengabdi kepada Sultan. Meski, akhirnya dia kembali ke agama semula.

Pria Eropa memasukkan dirinya ke dalam sejarah Indonesia, ketika mereka menemukan majikan Indonesia yang mau membayar keahliannya sebagai pelatih, peniup trompet, penembak meriam dan para jurutulis. Mereka pun membangun keluarga dengan menikahi perempuan lokal.

Khusus mengenai Pangeran Wiraguna, pada tahun 1689, Dewan Hindia dan Gubernur Jenderal Camphuys menetapkan kembali dirinya sebagai orang Belanda yang beragama Kristen. Namanya muncul pada 1695 sebagai seorang asisten pribadi residen Batavia, seorang tuan tanah dan operator mesin potong dengan kontrak harus mensuplai kayu pada VOC.

Pada tahun itu juga Cardeel melepaskan diri dari pernikahannya dengan Nila Wati yang telah dijalaninya selama enam tahun. Karena menurut versi Belanda — istrinya itu berselingkuh dengan seorang pria Sunda. Kemudian Cardeel alias Pangeran Wiraguna menikah lagi dan kali ini dengan upacara Kristen. Sedangkan ketika mengawini Nila Wati, gadis Banten, melalui akad nikah secara Islam.

Hal yang sama juga dilakukan oleh seorang orientalis Belanda, Snouck Horgronye, yang sampai kini masih banyak dibicarakan. Snouyck yang ditugasi pemerintah kolonial untuk meredam kebangkitan Islam pada abad ked-19, juga melakukan tugasnya dengan memakai kedok. Dengan masuk agama Islam Snouck berhasil pergi ke tanah suci dan mengibuli ulama-ulama Betawi.

Dalam menghadapi Islam, menurut orientalis Belanda ini, harus dipisahkan Islam sebagai agama dan politik. Terhadap masalah agama, pemerintah kolonial disarankan untuk bersikap netral. Sedangkan terhadap politik dijaga benar datangnya pengaruh dari luar semacam Pan Islam. Apalagi, sebelumnya, pemerintah Hindia Belanda menghadapi perlawanan oleh kelompok-kelompok Islam seperti dalam Perang Paderi (1821-1827), Perang Diponegoro (1825-1830), dan Perang Aceh (1873-1903).

Bagi Snouck dan pemerintah Belanda musuh kolonialisme bukjanlah Islam sebagai agama, melainkan Islam sebagai doktrin politik. Apalagi pada masa itu orang Islam di negeri ini memandang agamanya sebagai titik identitas yang melambangkan perlawanan terhadap pemerintah Kristen dan orang asing.

kisah yang menarik yang saya adaptasi dari Alwi Shahab dalam Republika, 27 Januari 2008. Beliau yang dulu bekerja sebagai wartawan dan sekarang telah banyak menerbitkan buku (req:info lebih lengkap browse ya!)

Weltevreden

“Weltevreden (bahasa belanda yang berarti dalam suasana tenang dan puas) adalah daerah tempat tinggal utama orang-orang eropa di pinggiran Batavia, Hindia-Belanda yang berjarak kurang lebih 10 kilometer dari RSPAD Gatot Subroto hingga Museum Gajah. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Weltevreden merujuk kepada hampir seluruh daerah Jakarta Pusat sekarang.” (disadur : http://id.wikipedia.org/wiki/Weltevreden)

Barangkali itulah sedikit pengertian tentang “Weltevreden” yang sudah dijelaskan oleh “pakde” wiki. Bila kita berbicara soal “Weltevreden” yang sebenarnya adalah nama sejarah dari sebuah tempat pada zaman penjajahan (biasanya tempatnya yang bersejarah tapi kali ini namanya yang bersejarah), maka kita juga kudu tahu donk tentang sejarah-sejarah yang terkait dengan”nya”. Diantaranya sesuai yang telah kita ketahui tentang apa itu Zaman VOC, Zaman Hindia-Belanda dan kawan-kawannya. Namun disisi lain disini kita tak perlu mengingat-ingat masa lalu kelam, karena disini saya (yang menamakan dirinya sebagai anggota weltevreden modern) mencoba membawa pembaca untuk ikut larut dalam perjalanan sejarah weltevrden……………….

27

Jan

~WELTEVREDEN~

Salam pagi salam semua,

ya mungkin itu adalah kata pertama yang terucap ketika saya memulai posting di blog ini. Alhamamdulillah puji syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan syukur pula karena saya telah diizinkan oleh Yang Kuasa untuk dapat menulis di blog.

saya bersyukur kepada Allah dan berterimaksih kepada saya sendiri yang sudah menyemangati diri dan meluangkan waktu untuk menulis blog, dan tak lupa berterima kasih kepada semua pihak yang sudah me-support baik secara langsung maupun tak langsung. saya juga meminta maaf kepada seluruh civitas MAN Insan Cendekia Serpong (tempat dimana saya sekolah sekaligus tinggal sekarang “asrama” ) khususnya Pak Erwin dan Pak Ipik selaku guru sejarah saya, “maafkan saya ya pak saya baru menulis sekarang”.

baiklah saya akan memulai dengan tulisan ini, Tidak! saya telah memulai dengan quote yang sebelumnya.

                                                                                                     Pe-blog

                                                                                              Diyar Aniiq Al-Biksi

Quote of the day :

“The signiicance of a man is notin what he attain, but rather what he longs to attain”


(KahlilGibran)